Pesan

image

Foto: Artharini Kisworo

Waktu sudah menunjukkan lewat sembilan malam, tapi lantai sepuluh sebuah gedung perkantoran megah di Jalan Gatot Subroto masih terlihat terang benderang. Dari dalam gedung tersebut seorang laki-laki dengan tampang kusut, mata cekung, dan rambut ikal berantakan berdiri di balik jendela.

Mas Jon yang kini sudah menjadi bagian dari ibu kota, sedang memandang hiruk pikuk jalanan  yang seolah tidak pernah kosong dari kesibukan masyarakatnya. Deru mesin kendaran, klakson yang saling bersahutan secara samar suaranya terdengar sama, semua seolah ingin berteriak “Ayolah aku ingin cepat sampai rumah, aku sudah lelah kerja seharian!”

“Ah… Bagaimana bisa menikmati hidup diantara berjalannya waktu kalau setiap hari harus berlomba dengan waktu seperti ini. Atau memang mereka dan kita semua sudah lupa cara menikmatinya. Sebenarnya siapa yang sibuk dan menyibukkan ?” Pikirnya

“Sudahlah, yang penting tidak lupa saja bagaimana caranya bernafas, biar tetap bisa hidup dalam keadaan sesibuk apapun”.

Mas Jon menatap layar telpon genggamnya. Dia menatap gambar amplop di handphonenya itu. Tadi sore ada sebuah pesan singkat mampir dari seseorang yang tak diduganya. Pesan yang agaknya membuat Mas Jon bahagia tapi miris.

Entah bagaimana dia harus bersikap, bahagia, sedih, senang, atau kehilangan. Dia masih bingung bagaimana dia menyebut rasa yang sedang timbul di dalam dadanya hingga saat ini.

Continue reading

Menunggu

Kakinya melangkah pelan, jalanan masih sangat lengang, dia berhenti pada sebuah rumah yang terlihat paling berbeda di antara rumah sekitarnya. Rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas di antara deretan rumah-rumah mewah. Kirana sedikit ragu, dia berdiri di luar pagar memandang rumah tersebut.
Angin berdesis diantara rumput dan dandelion di halaman rumah yang sudah tidak terurus itu.

Dia merogoh sesuatu dari dalam tas kulit berwarna coklat, sebuah kunci, duplikat, kunci yang diberikan kepadanya tiga tahun silam. Sejenak dia ragu saat memegang daun pintu rumah itu, tapi serasa ada dorongan kuat yang timbul dari dalam dirinya sehingga pintu itu berderak terbuka.

Isi rumah itu masih sama saat dia pertama kali datang. Lemari buku dan tumpukan kertas mendominasi seisi ruang utama, bedanya hanya debu dan kertas yang berceceran di lantai, seolah penghuninya buru-buru pergi meninggalkannya. Di pojok ruangan terdapat sebuah meja dengan mesin ketik tua di atasnya. Dia mengusap mesin ketik itu, samar-samar terdengar olehnya suara mesin ketik yang bersahutan dengan suara nyamuk, suara dari masa lalu yang mengingatkannya pada sang pemilik rumah, kepada dia yang entah kemana.

Kirana membuka satu-satunya jendela di ruangan itu, dia mengambil kursi tua yang ada di depan meja tempat mesin ketik itu berada. Pandangannya menarawang keluar, perlahan gambar yang terpampang dari jendela bergerak, seperti pita film yang memutar salah satu episode dalam hidupnya.

Disana terduduk dua orang yang saling diam. Mengelesot di antara embun yang menggantung pada cahaya lampu sisa-sisa guyuran hujan.

“Na, apa rencanamu besok?” Tanya si lelaki.

“Haah? Besok? Enggak tau mas, liat besok aja”. Jawab si perempuan.

“Apa kamu merasa bosan dengan rutinitas yang berjalan begitu saja, hingga kamu tak sadar telah semakin tua. Tidakkah ada sesuatu yang menarik untuk dilakukan?”

“Menarik mas? Entahlah”

“Iya, apa yang bisa menjadikan menarik hidup di negeri ini selain mendengar orang-orang yang sok tahu atau melihat yang miskin tetap miskin dan yang kaya terus jadi kaya?”

“Ah mas, di negeri ini jangan bicara soal kemiskinan apalagi kekayaan, tapi tentang kerja keras”, jawab si perempuan.

Si laki-laki terdiam, dia menyeruput kopi pahit sambil membakar rokok kreteknya.

“Ya, mungkin dengan menikmati kerja keras kita dapat merasakan hal yg berbeda setiap harinya. Mungkin kerja keras menjadi satu tingkat spritualitas yang dapat  dijalani”. Kata si lelaki

Keduanya terdiam, pandangan mereka tertuju pada genangan hujan yang memantulkan cahaya keemasan dari lampu kota.

“Na, besok aku mau pergi sebulan. Ada urusan di kota yang mesti aku selesaikan”.

“Sebulan mas Jon pergi? Lama sekali?”
Tanya si perempuan agak terkejut

“Iya, kamu pegang saja kunci rumah kalau sewaktu waktu kamu pengen tidur atau kerja di sana. Aku cuma bawa kantong kresek ini, tulisan yang belum selesai sama beberapa potong baju. Pada waktunya nanti kita bertemu lagi di rumah”.

Kini tiga tahun berlalu, mas Jon tidak juga kembali. Ada yang bilang kamu disana karena masalah perjodohan.
Aku hanya berpikir “ber-tapa-lah” kamu disana. Hingga saatnya tiba kamu pasti pulang, ditempat yang kamu anggap rumah.

Hujan turun perlahan, nampak bias-bias pelangi ikut mewarnainya. Kirana terpejam, bau air dan tanah yg sama dengan bau hujan saat terakhir mereka bersama.

“Semua hanya tinggal menunggu, hingga kita bisa menikmati berjalannya waktu kita masing-masing….”

Hari semakin terang, jalan komplek mulai ramai. Kirana melipat secarik kertas kemudian memasukkan ke dalam kantung jaketnya. Sepotong pesan yang belum sempat dia sampaikan tiga tahun lalu.

Jakarta, 15 Maret 2014

Berjalan

Langit masih gelap, Mas Jon berjalan dibawah cahaya kuning lampu merkuri yang sudah kusam oleh debu dan serangga. Rambutnya acak-acakan, mukanya masih kusut, terlihat sisa-sisa kantuk diujung matanya, dengan mengenakan sweater kumal dia menyusuri trotoar sudut jalan kota itu. Setiap lima langkah dia selalu menguap, entah karena mengantuk atau sudah bosan dengan ritual yang dilakukannya setiap hari, menyusuri jalan yang sama di antara malam dan pagi.

Jalan yang memanjang dengan deretan bangunan berwarna putih tersebut seperti pita kaset yang merekam jejak manusia sebelum bangsa ini lahir sampai sekarang. Kantor tua sisa perjuangan, kios yang menjajakan makanan resep leluhur, sampai toko modern yang berlomba memajang iklan diskon, saling berdampingan dan semua berwarna putih dibawah langit yang masih gelap.

Dipinggir jalan tersebut terlihat seorang alim berdiri menengadahkan tangannya ke atas, seorang perempuan dengan lipstik merah dan bibir basah menggaruk-garuk kepalanya, terlihat bingung menunggu sesuatu yang tak kunjung datang, sekelompok orang berdasi yang tertawa keras sambil memegang botol bir, dan seorang pemuda yang tidur berselimutkan spanduk bertuliskan “Fight for Clean Goverment”. Mas Jon berjalan lurus dengan tatapan kosong, seolah dia sudah hafal nasib dan kelakuan setiap makhluk yang ada disana, bahkan sampai yang terkecil.
Continue reading

Ingin Pulang

Kereta menderu, orang mendengkur. Seisi gerbong terlelap, ada yang duduk mangap, ada juga yang memakai selimut untuk gelaran dibawah. Beberapa sambil memeluk tasnya, entah takut  hartanya bakal dicuri atau  memang mereka nyaman seperti itu. Tas yang mungkin hanya berisi sepotong atau dua potong baju, harta satu-satunya yang mereka miliki untuk mengadu nasib di kota. Mereka yang meninggalkan tanah kelahirannya dan berharap nasibnya akan lebih baik di kota serba semrawut. Kota yang penuh suara mobil karena harganya murah, juga kota yang menjerit keras seiring harga tempe mahal.

Kereta menderu, orang mendengkur. Di sudut gerbong Mas Jon masih terjaga, memandang keluar jendela. Kopi yang  sudah dari tadi di pesan kini telah dingin karena belum juga disentuhnya. Dia tidak berselera untuk sekedar menyeruput kopi tersebut, bukan karena tidak bisa sambil menikmati beberapa isapan tembakau, tapi lantaran pikirannya sedang sibuk menerawang kebelakang. Hatinya tidak tenang, ada rasa rindu yang menggelayut, rindu kepada kampung dan orang-orang yang baru saja ia tinggalkan.

Kereta menderu, orang mendengkur. Beberapa pedagang masih menjajakan dagangannya, menyusuri gerbong tua mencari rejeki untuk sesuap nasi. Mas Jon masih betah diam memandang keluar gerbong, pikirannya makin menarawang kesana kemari.

“Apakah besok aku akan menjadi seperti mereka? Apakah aku juga akan tenggelam dan menjadi bagian dari kesemrawutan kota?”. Pertanyaan demi pertanyaan datang dalam pikirannya yang mulai kacau.

“Bukankah seperti kemarin saja sudah enak, ada kekasih dan teman-teman yang selalu tertawa bersama. Kalau sudah capek ketawa tinggal pulang tarik selimut, kenapa harus pergi?”. Batinnya.

“Hoaahm… Lhoh belum tidur mas? Orang yang dari tadi pulas di samping Mas Jon tiba-tiba terbangun.

“Pegel juga semalaman duduk tidur begini. Namanya juga kereta murah, yang penting sampai tujuan, bisa tidur juga sudah untung”, ujarnya tanpa ditanya.

Mas Jon hanya melirik sambil berusaha tersenyum. Sapto, orang yang duduk disebelah Mas Jon adalah salah satu dari mereka yang ingin mencari harapan di kota. Dia pergi meninggalkan  istri beserta anaknya yang masih kecil untuk menjadi kuli bangunan di hutan beton yang terus tumbuh sumpek.

“Mas kok enggak kerja di desa aja? Kenapa jauh-jauh pergi ke kota?” Tanya Mas Jon.

Continue reading

Utopis

Matanya yang hitam memandang tajam, jauh kedalam awan dan kabut, seakan ada sesuatu yang hendak dia jemput. Dia duduk diam menerawang di bibir jurang, tak peduli angin dingin menyaput wajahnya yang pucat tanpa bisa menjadi lebih pucat lagi.

Tiba-tiba dari bibirnya merekah senyuman, seiring merekahnya semburat fajar dari batas cakrawala. Kini mata hitamnya membidik siluet batu-batu raksasa dari momentum yang sedari tadi ditunggunya. Mungkin dalam hati dia bersyukur para Punokawan terpeleset saat memindahkan puncak Gunung Merapi atas perintah para dewa, kemudian menjatuhkannya disini.

Diam-diam dia juga mengamati kepada dua orang lelaki dan perempuan yang tertawa meluapkan kebahagiaanya, luapan kebahagiaan yang datang dari masa lalu, seperti perasaan yang datang setelah sengaja dipendam pada masa dulu.

Kembali tersungging senyuman di wajahnya, melihat si perempuan tampak senang bertemu kembali dengan si lelaki walaupun masing-masing telah memilih laku yang berbeda. Tapi sebenarnya dimensi awal mereka bertemu menjadikan mereka tidak bisa berbeda.

***

Ia kini terlihat mantap dengan dirinya yang sekarang. Dari caranya bicara, sepertinya ia telah benar-benar menemukan alamat di ujung jalan yang telah ia ambil. Ia sudah tidak lagi cemas dengan masa lalu. Ia merasa tidak ingin kembali kepada masa lalunya yang lebih berwarna, bahkan ketika orang lain merindukan masa lalu mereka

Di atas sini, sinar matahari seperti menyoroti caranya tertawa dengan si lelaki, tawanya belumlah berubah. Caranya berjalan masih sama saat pertama mereka bertemu. Cara ia menyapa terasa hangat diantara dinginnya kabut dan sapuan angin, sampai terasa oleh dia yang diam-diam tersenyum, memang sedikit banyak perasaan perempuan itu sama.

Tapi mungkin sejak dulu jalan ia dengannya sudah berbeda. Kini mereka bertemu saat sudah menjadi manusia yang berbeda, walaupun keduanya baru pertama kali menginjak puncak yang sama. Ia yang kini lebih matang dan si lelaki yang kini kian tenang.

***

Aku adalah bagian dari perasaan dia dan ia. Aku ikut bersama mereka melihat kerlap-kerlip ribuan lampu kota dibawahnya, ikut mendengarkan mereka bercerita bersama jutaan bintang di atasnya, dan ikut  merebahkan tubuh yang lelah bersama deru angin malam diantaranya.

Aku hanya mengumpulkan potongan pita rekaman dari perasaan yang tersirat di wajah mereka kemudian menyambungkannya dengan pikiran-pikiran utopis.

                         Klaten, 16 Agustus 2013

image

Alamat dan Firasat

Saat kau temui banyak jalan terbentang dihadapanmu, tanpa tahu jalan mana yang harus kau ambil, tunggulah sesaat, dengarkan firasat dan alamat. Lihat jalan mana yang bisa membuat langkahmu terasa ringan dan seimbang.

Jangan asal, duduklah dan coba diam barang sebentar. Tarik nafas, seperti saat pertama kali kau bisa menghirupnya. Dengarkan firasat dan alamat yang sedang berunding, jangan dibantah, cukup diam dan dengarkan.

Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu, tetaplah hening, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Sekalinya pendengaranmu luput, ringkih akan menjeratmu. Seperti menjerat manusia lain. Manusia ringkih, mudah diombang-ambing bimbang, diremas-remas cemas, dilecut takut, dan dijajah gelisah.

Saat hatimu sudah bicara, firasat dan alamat sudah berlogika,segeralah beranjak. Ambil jalanmu, meski masa lalu dipenuhi sesal, masa depan tentu tidak akan dipenuhi cemas, apalagi masa lalumu yang penuh harapan untuk masa depan.

Beranjaklah dengan mantap, segera telusuri jalanmu, firasat dan alamat yang akan meringankan langkahnya. Meski masa depan tetap terbungkus misteri, nasib tidak akan tertukar. Semua yang menjadi jalanmu akan tetap menjadi milikmu, rejeki, jodoh, dan umur tak bisa mencari pemilik lain. Mereka tak akan bisa berkhianat.

Dikantheni rasa tulus, sak tibo-tibone rak ya nemu begja

                              Jakarta, 28 Juli 2 013

Keadilan Berjalan Melalui Kebebasan

Tempo hari saya melihat sebuah kicuan antar dua orang tentang eksistensi keadilan dalam kehidupan. Apakah kehidupan yang di jalani manusia sebenarnya sudah adil, atau memang sengaja dibuat tidak adil? itu yang kiranya mereka persoalkan. Keduanya melihat dari perspektif yang sama, yaitu tentang bagaimana tangan Tuhan bekerja dalam menentukan nasib manusia. Seorang dari mereka berpendapat bahwa kehidupan di dunia sudah adil karena Tuhan sudah mengaturnya sedemikian rupa, manusia memperolehnya dengan bersyukur. Seorang yang lain menanggapi bahwa kehidupan sengaja diciptakan tidak adil, agar manusia terus berusaha untuk bertahan hidup dengan tidak hanya menengadahkan tangan berharap keadilan turun dari langit. Masing-masing dari pandangan tersebut mempunyai segi yang positif. Lalu bagaimana sifat dari keduanya pada realitas yang sesungguhnya? Mungkin lebih tepatnya bagaimana menguraikan kedua pendapat tersebut.

Di dalam sebuah paham yang dinamakan meliorisme realistis, Continue reading

MENEMUKAN PANCASILA DALAM ISU MULTIMINORITAS DAN GLOBALISASI

Sebagian besar atau bahkan mungkin semua orang Indonesia tahu bahwa Pancasila berisi lima dasar pedoman bernegara. Pertanyaannya adalah bagaimana eksistensi Pancasila tersebut? Dalam artian pemahaman terhadap nilai yang terkandung dari kelima sila dalam berkehidupan, terutama kehidupan bangsa Indonesia yang tidak hanya plural tapi multiminoritas. Apakah Pancasila masih sakti?

Negara dengan latar belakang kultur, suku, agama, dan bahasa yang beraneka ragam dan dapat hidup di dalam keberagaman tersebut merupakan sebuah karunia dan kebanggaan dari suatu bangsa, seperti yang seharusnya terjadi pada bangsa Indonesia ini. Persoalannya adalah perilaku saling tuding dengan isu minoritas-mayoritas yang berlatarbelakang budaya, suku, agama, dan bahasa sehingga tercipta sikap diskriminatif telah membentuk Indonesia sebagai bangsa yang multiminoritas. Minoritas bukan hanya berarti kelompok-kelompok yang kecil yang ada di Indonesia. Jawa menjadi suku mayoritas di Indonesia, tapi saat seorang Jawa berada di Papua atau di Aceh maka Jawa itu akan menjadi minoritas. Continue reading

Pikiran

” Hati-hati dalam berpikir, karena akan menjadi ucapan, kemudian akan menjadi tindakan, yang membentuk suatu karakter dan kebudayaan, jika berlangsung lama akan menjadi peradaban”.

Emha Ainun Najib, pada Kenduri Cinta “Asongan Akherat”, 08 Maret 2013.

Kalimat ini yang paling saya ingat dari pertemuan KC jumat sampai sabtu jam 3 pagi kemarin. Sebenarnya malam itu agak aneh, karena semua yang diucapkan EAN hampir persis dengan apa yang berputar-putar dipikiran saya di malam sebelumnya, tentang sejarah, menemukan yang primer dan sekunder, juga sedikit hal lain. Mungkin kebetulan, atau perasaan saya saja, atau entahlah…..

Potongan kalimat EAN yang paling saya ingat tadi tentang pikiran, karakter dan budaya secara langsung saya lihat dan mungkin juga saya alami dalam lingkungan civitas akademika yang pernah saya geluti. Dalam lingkungan tersebut terjadi sebuah pembentukan budaya yang dibilang sesat dan ingin diganti perilaku budaya baru, tapi pada semua jalannya budaya baru yang ingin dibentuk selalu menabrak budaya sesat tersebut, karena budaya baru yang ingin dibentuk menghasilkan keadaan yang terus mengalami degredasi, dan akhirnya mulai ada pengakuan bahwa semua yang dilakukan dalam budaya sesat tersebut adalah budaya yang sesungguhnya benar.

Jika ditarik kebelakang, si budaya “sesat” ini dihasilkan dari pemikiran yang sehat tanpa maksud terselubung selain bentuk dari dharmabakti untuk menghasilkan karakter mencapai perubahan demi membentuk watak “kemajuan”, sedangkan si budaya satunya mencoba menggeser budaya “sesat” dimulai dari pikiran yang tidak waras, melalui perilaku yang coba menciptakan intrik dan gosip.

Semoga momentum yang sedang tercipta ini mampu mengantarkan institusi pada peradaban yang sehat, terutama untuk manusia-manusia yang sedang mencari pembelajaran di dalamnya, sehingga menemukan kesejatian masing-masing maupun secara universal.