Mata Melihat, Mata Kaki Tujuan Langkah, Mata Hati…

Berkas:Narada-yudhisthira.jpg

Spiritual bukan berarti bahwa hanya belajar tentang agama, spiritual menurut saya adalah belajar tentang nurani, belajar untuk membuka mata hati. Tepo seliro dari orang Jawa misalnya, adalah hal besar dari pelajaran spiritual. Perjalanan spiritual buat saya adalah  menemukan kebahagian seperti melukis pelangi, yang indah karena disusun dari baerbagai warna:kebahagiaan-penderitaan, pujian-cacian, kesenangan-kesedihan, Tapi untuk itu harus dilukis dengan satu kuas, yaitu kasih sayang. Hingga kita akan menemukan ujungnya berupa keseimbangan diantara dua hal tersebut, selanjutnya jalani dengan konsistensi hingga muksa/menua yang indah. Seimbang layaknya dharma dan karma yang saya percaya selalu ada.

Salah satu pembelajaran dapat diambil dari cerita pewayangayang mewakili watak manusia.

Yudhistira, yang tertua dari kelima Pandawa, Putra Dewa Dharma, berwatak jujur dan berdarah putih.Sepotong dialog dari Yudistira dengan Yaksa jelmaan Dewa Dharma…..

Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur daripada langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami?

Yudhishthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang Ayah lebih luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.

Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?

Yudhishthira: Kawan dari seorang musafir adalah pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat adalah amal.

Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat seseorang dicintai, bahagia dan kaya?

Yudhishthira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat seseorang dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.

Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?

Yudhishthira: Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan.

Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?

Yudhishthira: Seorang yang tidak punya hutang adalah benar-benar berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun yang masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti, Antara Śruti saling berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati kita. Karena itu kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil. Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah apinya, hari dan malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu (dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.

(Sumber: Wikipedi)

Silahkan cerna dan renungkan, keputusan yang kita ambil akan selalu ada akibat dan tebusan sebagai maharnya. Bagaimana dengan otentisitas diri kita dalam mengambilnya.

“Dharma dan Karma seperti tegasnya Ibu Pertiwi, jika kita menanam jagung maka akan berbuah jagung, jika kita menanam kelapa akan berbuah kelapa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s