Kebencian, Karma, Ikhlas

Siapa tidak pernah mendengar nama seniman yang akrab dikenal sebagai Presiden Jancukers Sudjiwotedjo? Seniman yang kerap melontarkan pernyataan-pernyataan nyleneh (yang menurut saya cara dia cari perhatian), tapi sebagian besar pernyataan itu benar menurut perspektif saya.

Kali ini ada beberapa potongan opini Ki Jancuk Sudjiwotedjo tentang karma dan kebencian.

    • Hati2 thdp karma dr #kebencian.Klo kalian ngebet Pak Arifinto diadili krn benci PKS,bs jd kalian/keluarga kalian ntar kena kasus serupa.
    • Aku gak sreg ma PKS,tp sekuat2nya aku berusaha terlepas dr #kebencian pd PKS dan tetep ingin fair melihat kasus Pak #Arifinto.
    • Tak sedikit temenku polisi yg gencar memberantas kasus Narkoba,tp berantas dgn #kebencian. Eh,Anak/keponakannya kena kasus Narkoba.
    • Oke tambahan:Penggagas UU Pornografi yg menggagas itu krn #kebencian thdp pornografi,emang bisa kena karma.
    • Sama halnya: penggagas UU antikorupsi yg menggagas itu krn #kebencian pd koruptor2,mungkin suatu saat kena jeratan karma korupsi juga.
    • Memberantas korupsi dan pornografi gampang.Yg susah,memberantas tanpa rasa benci,tp hanya demi tegaknya hukum.
    • Agar kesejahteraan umum meningkat.Bukan krn benci pd koruptor RT @aeront: trus korupsi diberantas dgn motif apa ki dalang?”
    • Dewi Sukesi melahirkan raksasa Rahwana krn kebenciannya pada raksasa!
    • Seperti Muhammad, berperang tanpa rasa benci, tp berperang demi tegaknya agama
(Sumber: sosbud.kompasiana.com)
Saya setuju dengan opini diatas terlebih dengan yang diberi bold. Segala hal yang dikerjakan dengan kebencian menurut saya akan membentuk suatu mata rantai kebencian lagi pada saat jatuh tempo karma itu dibayar, dan terus akan berulang. Ada yang bilang “Kebencian hari ini, Petaka esok hari”.
Lalu bagaimana?
Ikhlas, menurut saya. Keikhlasan adalah dasar untuk melakukan sesuatu dengan mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi, atau satu pihak.
Kejahatan/Kebencian tidak harus dibalas dengan rasa yang sama. Inilah hidup menurut saya, selalu ada cara yang berlawanan.
Dari pandangan-pandangan disekitar saya, dapat saya analogikan; “Hidup layaknya orang naik sepeda, kita tidak bisa berhenti jika tidak ingin jatuh. Tapi juga hidup seperti kita memegang gelas, kita tidak dapat terus memegangnya, sampai kesemutan dan kesakitan, sekali waktu kita harus meletakkannya”.
“Sebenar-benarnya adalah sulit untuk bersikap ikhlas, berlaku tanpa berharap demi kepentingan diri sndiri. Keikhlasan membawa suatu kebahagiaan dan pembebasan. Kebahagian dan kebebasan saya ukur dari seberapa saya merasa cukup, dan itu tergantung dari rasa syukur dan ikhlas.”
Sekian ocehan saya kali ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s