DETERMINASI

Sebenarnya agak sulit untuk mulai dari mana malam ini. Semangat, itu saja.. kata yang paling gampang untuk memulainya. Kita menjalankan sesuatu ada niat dan semangat, tapi saya disini menyebutnya dengan determinasi.

Ibarat kita motor, niat adalah bensin dan determinasi adalah gas nya. Kenapa saya kali ini membahas determinasi, karena saya lagi mengalami krisis determinasi akibat kebanyakan ngenggur, determinasi yang di satu saat sangat rendah kadarnya.

Kita berbelok sedikit, saya ingat saat SMA sangat mengagungkan kata idealisme dengan penuh semngat, dan sok-sok an tapi hanya apa adanya. Sore ini saya dapat suatu pelajaran, bahwa idealisme ditunjukkan ada waktunya, bolehlah kita berpegang, tapi ada saatnya kita menunjukkan idealisme itu. Misal, kita ingin merubah suatu sistem pada suatu badan besar, ya kita harus ikut alur itu dulu, cari posisi yang strategis, baru kita tunjukkan idealisme kita. Bukan dari hanya sendiri tanpa dukungan dan kekuatan, karena itu konyol, dan ibarat orang gila, karena ngomong sendiri tidak ada yang mendengarkan.

Determinasi bisa diuji ketika idealisme diuji, seperti saya, saya belajar dari orang dan barang yang saya pelajari adalah benar, saya belajar tentang pelajaran hidup, saya yakin karena isi dada saya terasa jadi enteng. Hanya saja disekitar saya menganggap bahwa saya terbawa oleh arus asing, atau apalah dipikiran mereka saya tidak tahu. Suatu hal yang jelas adalah sindiran yang jelas dimata mereka saya jadi jelek. Disini determinasi saya diuji, apakah saya tetap ‘lapar’ untuk terus belajar, ataukah akan berhenti disitu saja, menyerahkan keyakinan atau idealisme saya untuk menganggap hal tersebut benar.

Tapi satu hal kesimpulannya, apakah itu ilmu, kegiatan, atau tidakan, Determinasi menentukan kualitas suatu Karya, dan menurut saya…

“Hidup adalah soal karya, bukan nilai atau angka”

 

One thought on “DETERMINASI

  1. Determinasi bisa diuji ketika idealisme diuji, seperti saya, saya belajar dari orang dan barang yang saya pelajari adalah benar, saya belajar tentang pelajaran hidup, saya yakin karena isi dada saya terasa jadi enteng. Hanya saja disekitar saya menganggap bahwa saya terbawa oleh arus asing, atau apalah dipikiran mereka saya tidak tahu. Suatu hal yang jelas adalah sindiran yang jelas dimata mereka saya jadi jelek. Disini determinasi saya diuji, apakah saya tetap ‘lapar’ untuk terus belajar, ataukah akan berhenti disitu saja, menyerahkan keyakinan atau idealisme saya untuk menganggap hal tersebut benar.
    +1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s