Refleksi Mutakhir Emha Ainun Najib Melalui Panggung Teater

Malam itu tanggal 08 Maret 2012 mendapat sms bersamaan dari teman di jogja  dan yg dikontrakan, menawari undangan untuk menonton gladi bersih pertunjukan teater, Teater Perdikan bersama LETTO “NABI DARURAT RASUL AD-HOC” di Gedung Kesenian Jakarta.

Kenapa saya tertarik? karena saya tahu bobot tokoh2 yang mempunyai peran penting di acaranya, dari kegiatan yang lumayan sering saya ikuti setiap bulan pada hari jumat minggu kedua… Kenduri Cinta di TIM.

Malam itu saya datang berdua di Gedung Kesenian Jakarta, luar biasa gedungnya, terlihat mewah dan kuno (karena pada dasarnya saya suka nuansa dan gaya gedung-gedung peninggalan kolonial).

Pertunjukan teater ini adalah karya terbaru Emha Ainun Najib (Cak Nun) yang telah sukses dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 02 Maret 2012.

Cak Nun secara lugas menggambarkan bahwa kerusakan dunia nampaknya tidak akan mampu diperbaiki oleh setingkat manusia yang mutunya sudah tercerai berai. Maka dibutuhkan personifikasi manusia setingkat Nabi atau Rasul untuk meruwat kearah perbaikan dunia. Pada intinya diperlukan campur tangan Tuhan untuk melakukan perubahan.

Saya setuju, bayangkan manusia sekaliber apa yang mampu membuat revolusi? mampu memobilisasi sekian banyaknya orang yang telah rusak, bahkan ikut menikmati kerusakan tersebut.

(gambarnya agak tidak jelas karena hanya pakai kamera HP)

Salah satu nukilan dialog Ruwat Sengkolo (pemeran utama):

“… Wahai bangsa besar, buang ukuran-ukuran dari hidupmu

Wahai ummat manusia, batalkan kemanusiaanmu

Wahai Pengurus Negara, hancurkan hakekat kenegaraanmu

Wahai Penegak Demokrasi, palsukan prinsip-prinsip hak dan wajib asasi

Berpolitiklah dengan memakan bangkai-bangkai

Perhinakanlah kebudayaanmu, campakkan ke tong-tong sampah

Wahai para pemeluk Agama, rampoklah kuasa Tuhanmu

Dengan tafsir-tafsir egosentris golongan dan aliranmu…”

Sekali lagi, ini adalah sebuah perenungan untuk melihat krisis moral dan kepercayaan, melihat negri yang penuh “percaloan” dikuasai oleh “premanisme”. Kalau guru saya bilang Negri Bedebah Dijajah Preman.

Semua kembali ke keyakinan masing-masing, lakukan yang kamu anggap bisa lakukan, tapi jangan jadi seorang puritan.

Secara individu pelajaran yang mengena saya adalah dari dialog Pak Jangkep:

“Pantang Tinggal Glanggang Colong Playu”, intinya pantang untuk lari dari kenyataan, dan hal tersebut belum bisa saya lakukan secara konsisten.

One thought on “Refleksi Mutakhir Emha Ainun Najib Melalui Panggung Teater

  1. Reblogged this on Little L and commented:
    “… Wahai bangsa besar, buang ukuran-ukuran dari hidupmu

    Wahai ummat manusia, batalkan kemanusiaanmu

    Wahai Pengurus Negara, hancurkan hakekat kenegaraanmu

    Wahai Penegak Demokrasi, palsukan prinsip-prinsip hak dan wajib asasi

    Berpolitiklah dengan memakan bangkai-bangkai

    Perhinakanlah kebudayaanmu, campakkan ke tong-tong sampah

    Wahai para pemeluk Agama, rampoklah kuasa Tuhanmu

    Dengan tafsir-tafsir egosentris golongan dan aliranmu…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s