Kado Buat Cak Nun: Mantra Anak Zaman

Emha Ainun Najib berulang tshun pada tanggal 27 Mei, sudah hampir dua bulan lewat, begitu pula isi dari tulisan ini, kado ini sudah diberikan 2 bulan yang lalu. Kado untuk Cak Nun dari sahabatnya Alex Mustafa.

Sebuah mantra berjudul anak zaman, yang ceritanya tentang Cak Nun, mungkin juga doa untuk beliau. Bagus sekali bunyinya, beberapa kali saya teringat dan sekarang lagi. Saya menikmatinya di jama’ah Kenduri Cinta 11 Mei 2012 lalu, Kenduri Cinta dengan tema “Menghisab Tuhan”.

Sumber Gambar: Alex Mustafa


Anak Zaman

Allahuma, Allahuma seneksi bumi, seneksenono marang langit,

Kinayungan ider ira malaikat kang ngreksa marang Allah,

Ana dandang saka wetan, kuku ira kuku waja,

Sanajan ira nyucuk bathang, nyucuk-o lara uga.

 

Allahuma, Allahuma seneksi bumi, seneksenono marang langit,

Kinayungan ider ira malaikat kang ngreksa marang Allah,

Ana dandang saka wetan, kuku ira kuku waja,

Sanajan ira nyucuk bathang, nyucuk-o lara uga.

 

Allahuma, malam kelam, malam kalam, malam kalap terus bergoyang.

Goyang-goyanglah malam! goyang goyanglah malam!

Nenek tuaku dan Emha Ainun Nadjib, terlena dikursi goyang.

“Le…, dadi-o Gusti Allah Le!,

Sing Kuwasa lan Kuwawi,

Sing mulang welas asih tur ngayomi,

Sing saksembarang kalir kahebatane,

Le…, dadi-o Gusti Allah Le!

Dadi-o Gusti Allah Le…!”

Alex Mustafa mengatakan bahwa dalam acara itu ada suatu perayaan untuk Tuhan (Celebration of God):

“Ada suatu Celebretion of God, perayaan ketuhanan yang luar biasa, lakonnya Tuhan melawan manusia dan melawan siapa saja… Pang-pung-pang-pung-pang-pung yang menang akhirnya Tuhan. Nanti ada lagi cerita, Pang-pung-pang-pung-pang-pung yang menang akhirnya Tuhan”

Dengan contoh Nietzsche dan Hegel yang semula anti-Christ saat tua menjadi penganut Christ yang mungkin paling taat. Semua karena  mereka masing-masing, melihat sebuah eksatologia, menemukan sebuah kepastian yaitu mati. Berakhir pada mulih mula mulanyo, kepada Yang Maha Esa.

Dirangkum dari: Acara/FB Kenduri Cinta 11 Mei 2012

Terlepas bahwa ada kepastian bahwa semua akan mati, hidup harus dijalani dengan kepastian-kepastian lain yang akan dihadapi terlebih dahulu.

“Saya hanya bisa berkata bahwa Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku, adalah modal untuk menjalani pepesthi-pepesthi yang akan dihadapi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s