Soekarno Dan Bangsa Yang Besar

Tulisan kali ini sedikit menguraikan kesan saya tentang seorang Soekarno, Putra Sang Fajar yang pernah saya baca dan saya dengar. Ya.. mungkin karena kemarin lusa, 21 Juni adalah peringatan wafatnya Bung Karno, Bapak Proklamator, Pemimpin Besar Revolusi, Presiden pertama RI, maka saya buat tulisan ini. Mungkin juga karena Indonesia menduduki peringkat 63 dari 178 negara gagal 2012.

Bunga Karno dibenak saya adalah seorang karismatik dan tegas. Cinta dengan rakyatnya sudah tentu saya tidak meragukannya lagi. Beliau adalah arsitek negara ini, berusaha membangun negara ini untuk menjadi bangsa yang besar, yang punya karakter dan harga diri tinggi. Bapak yang memang pantas disebut sebagai seorang Bapak bagi bangsa ini.

Sumber Gambar: Google

Bukti ketegasan soekarno adalah sikapnya terhadap asing, terhadap imperialisme dan liberalisme, salah satu contohnya artikel di kompas berikut: Soekarno dan Politik Minyak Kita

Kecintaan terhadap bangsa dan rakyatnya adalah alasannya untuk turun dari kursi kepresidenan pada 20 februari 1967. Satu hari di istana Bogor, pada awal tahun 1967, Bung Karno berkata pada Ruslan Abdul Gani:

” Cak, kalau saya maju selangkah lagi memenuhi tuntutan mereka, akan pecah perang saudara. Brawijaya di Jawa Timur sudah mau mengajak saya ke sana. Saya tidak ingin perang saudara, biar saya tenggelam, saya rela tenggelam asal jangan pecah perang saudara. Nekolim terang-terangan akan masuk, dan kita akan dirobek-robek”.

Tidak ada manusia yang sempurna, semua pribadi pasti pernah melakukan kesalahan, begitu pula Bung Karno. Politik Nasakom (nasionalis, agamis, dan komunis) saya kira menjadi tamparan keras bagi Bung Karno.

Sayang, Bapak bangsa ini tidak mendapat perlakuan dan perawatan yang layak menjelang akhir hayatnya.

Sumber Gambar: Google

Ada satu peristiwa yang mangharukan menjelang wafatnya Bung Karno. Saat itu Bung Hatta menembus karantina menjenguk sahabatnya di RSPAD, sahabatnya yang sudah dalam keadaan parah dengan sekujur tubuh membengkak karena ginjal yang rusak tidak dapat menyaring racun. Menurut Meutia Hatta, saat itu keduanya tidak bercakap cakap, hanya berpandangan,  Bung Hatta memijit tangan Bung Karno. Air mata Bung Hatta menetes.

Namun. Ada yg bilang, Bung Karno hanya mengucapkan sepatah kata. “Hatta..Kamu disini ?” Habis itu terdiam. Hatta menangis. Ketika Bung Hatta pamit pulang, Bung Karno meneteskan air matanya. Ia menangis karena tahu bahwa ini adalah pertemuan mereka terakhir. Hatta adalah sahabat Bung Karno sampai akhir hayat, hubungan persahabatan antara Dwitunggal.

Inilah secuil kesan dan opini saya tentang Putra Sang Fajar, saya berharap ada yang bisa diambil menjadi inspirasi untu membangun bangsa dan melawan ‘bencana’ bangsa.

Perjuangan kita saat ini lebih berat, musuh atau bencana utama yang dapat menghancurkan  bangsa ini bukanlah nekolim, melainkan pihak-pihak yang memelintir keadaan, menjadi tikus yang menggerogoti bangsanya sendiri, menikmati kerusakan yang terjadi… Seperti yang pernah Bung Karno katakan:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

Semoga Indonesia bangkit kembali……..

“Jangan mengeluh… Jangan mengeluh! Karena keluh adalah tanda kelemahan jiwa”

-Soekarno-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s