Sepiring Demokrasi Dalam Hidangan Pinggir Jalan

Sudah empat tahun saya hidup di Jakarta dan salah satu hal yang saya suka adalah jajan, makan masakan kampung. Saya sering mencoba bertanya, mencari tahu dimana tempat sederhana tapi khas yang menjual sajian makanan ndeso. Ya mungkin semata hanya ingin mengenang aroma, kerinduan, atau romantisme akan kampung halaman.

Sumber: Google

Tempat yang paling sering saya kunjungi adalah warung nasi kucing. Saya suka dengan suasana bersahajanya, ngobrol sambil nyomot gorengan atau tusukan bermacam sate, dan tak lupa menyruput teh jahe. Warung kucing yang sering saya kunjungi adalah warung kucing fatmawati (walaupun suasana nya kalah khusyuk untuk ngobrol dengan yang biasa saya kunjungi di Klaten)

Sebenarnya di Jakarta banyak sekali restoran mewah yang menyediakan masakan daerah. Bagi saya yang berstatus mahasiswa tentu dari segi harga sudah tidak cocok, tapi secara umum penampilan dan rasanya juga tidak cocok. Penampilan yang terlihat dibuat-buat dan rasanya berbeda dengan orisinilitas rasa di warung yang biasa ada di pinggir jalan. Hal yang sudah pasti tidak ada yaitu suasana keluguannya.

Demokrasi dan Warung Yang Lugu

Secara sosial saya memandang bahwa suasana di warung pinggir jalan seperti sebuah perwujudan demokrasi, tanpa diskriminasi dan kesenjangan. Tidak ada pelayanan berbeda antara si kaya dan si miskin, semua dilayani dengan hangat dan ramah apa adanya, tidak ada segmentasi. Seperti diwarung kucing fatmawati, pengunjungnya bermacam-macam, ada mahasiswa, pekerja, karyawan , pengusaha, sampai tokoh masyarakat seperti Jokowi yang waktu lalu sempat jajan diwarung kucing ini. Semua dilayani secara sama, baik yang naik angkot, naik motor maupun naik mobil mewah.

Warung seperti ini menyuguhkan suasana bersahaja dan apa adanya. Suasana apa adanya yang dimaksud adalah keluguannya. Berbeda dengan restoran yang menurut saya lebih berfungsi untuk pantas-pantasan menjamu orang. Keluguan ini terwujud karena mungkin mereka tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan dari hasil warungnya. Jika benar, ini yang saya sebut harmoni sebagai tujuan mereka.

Inilah sepiring demokrasi yang bisa saya temukan, tanpa diskriminasi, tanpa kesenjangan, dan juga tanpa pencitraan yang berlebih…. (dan saya bicara demokrasi di warung bukan di Indonesia)

“Sepertinya dalam kebersahajaan dan keluguan kita dapat bercermin, atau paling tidak kita tidak akan tertipu oleh diri sendiri”

3 thoughts on “Sepiring Demokrasi Dalam Hidangan Pinggir Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s