Melawan Korupsi: Sikap Sebagai Pembentuk Budaya

“Apakah kamu terbiasa menyerobot antrian di tempat umum? Apakah kamu terbiasa menyerobot jalur busway saat berkendaraa dalam kemacetan? Apakah kamu terbiasa mencontek saat ujian? Atau pernahkah kamu meminta jatah uang jajan kepada orangtua kamu dengan alasan keperluan sekolah, padahal kamu gunakan untuk hal lain?”

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah hal-hal kecil yang sangat mudah kita temui di kehidupan sehari-hari, tapi sebenarnya merupakan bibit-bibit awal yang mendorong berkembangnya budaya korupsi. Budaya korupsi sangat berbahaya bagi masa depan bangsa karena  karakter suatu bangsa ditentukan oleh sikap masyarakat bangsa itu sendiri, dan budaya adalah landasan dasar pembentukan sikap atau karakter dari setiap pribadi. Suatu kebiasaan kecil jika sudah mengakar menjadi suatu budaya akan sangat sulit untuk diubah, ibarat benalu jika sudah menempel disuatu ranting akan sangat cepat sekali menyebar  dalam satu pohon dan menjadikannya parasit yang menyedot nutrisi dari pohon tersebut hingga pohon tersebut mati. Sama halnya dalam suatu bangsa, jika budaya korupsi sudah dianggap hal biasa, budaya korupsi tersebut akan terus menyebar dan mengkontaminasi dari satu orang ke orang lain yang tidak punya sikap ingin memutus rantai persebaran korupsi, apalagi yang memang tidak punya immune atau benteng terhadap tindakan-tindakan korupsi, bisa dikatakan urat malu untuk melakukan tindakan korupsi sudah putus (kalau kata Joko Anwar, sudah vulgar-vulgaran melakukan korupsi, sevulgar bokep). Pada akhirnya bangsa tersebut kehilangan masa depan yang baik dan mati dengan karakter sebagai bangsa yang korup.

Bibit-Bibit Korupsi

Contoh kecil dari budaya korupsi dapat dilihat di lalu lintas Jakarta, disaat jalan berdesak-desakan penuh dengan pengendara sepeda motor atau mobil, tidak jarang dari pengendara-pengendara tersebut menyerobot masuk jalur busway yang tentunya hanya boleh dilalui oleh busway. Alasannya demi kepentingan pribadi masing-masing, yang entah takut terlambat masuk kantor atau hanya karena tidak betah dengan kemacetan ingin cepat samapai rumah. Penyerobotan jalur busway adalah bentuk korupsi tehadap sistem lalu lintas yang sudah dibangun dengan tujuan baik yaitu agar struktur tranportasi di Jakrta lebih tertib dan lancar. Jalur busway sebaiknya dibangun berlawanan arah seperti di luar negeri, sehinggga koruptor-koruptor jalan tidak dibiarkan mengekor dibelakang, akan tetapi dilawan dengan arah yang berlawanan. Korupsi di jalan juga dapat dilihat saat ada pelanggaran lalu lintas. Pengendara kendaraan bermotor melanggar  peraturan lalu lintas sehingga tertangkap oleh aparat, kemudian  tidak mau repot melalui proses hukum yang seharusnya, kemudian mereka menawarkan jalan “damai” kepada aparat tersebut, dan tidak jarang aparat pun menerimanya sebagai win-win solution yang jelas salah, karena jelas hal tersebut merupakan tindakan suap. Budaya potong kompas atau menggunakan jalur yang tidak semestinya mencetak masyarakat yang saling sikut dengan segala cara demi kepentingan pribadi.

Sumber GambarFOTO ANTARA/Rosa Panggabean/mes/11.

Di dalam dunia pendidikan pun budaya korupsi mudah untuk berkembang. Di kalangan siswa, kebiasaan mencontek saat ujian menjadi bibit awal budaya korupsi. Bantuan-bantuan kepada para siswa yang punya kompetensi tapi tidak mampu secara materiil juga bisa menjadi ajang korupsi, terutama di sekolah RSBI yang sering diplesetkan singkatannya menjadi “Rintihan Sekolah Berbahasa Inggris”, karena memang biayanya agak mahal bagi kalangan tertentu.  Ada pengalaman pribadi di sekolah saya dulu, sekolah negeri di  suatu daerah. Saya mendapat berita dari seorang siswa yang masih aktif, bahwa ada empat orang  calon siswa baru yang kalah saing dalam kualifikasi berdasarkan standar penerimaan siswa baru, rela membayar  uang sejumlah lima belas juta hingga dua pulu juta agar bisa diterima disekolahan tersebut. Ironisnya adalah mereka bangga dan tanpa rasa bersalah jika orang lain tahu mereka  bisa diterima di sekolahan tersebut karena mereka punya uang untuk menyuap aparatur sekolah. Pendidikan yang dapat dibeli sama halnya dengan menginjak-injak almamater yang dibanggakan.

Kebiasaan yang dapat memancing budaya korupsi di dunia pemerintahan mungkin bisa dilihat pada perayaan hari keungaan tanggal 30 Oktober 2012 mendatang.  Saya mendapat informasi dari salah seorang pegawai di suatu direktorat jendral, suatu kementrian di Indonesia bahwa perayaan yang dihadiri oleh dua belas Eselon I tersebut menghabiskan anggaran negara yang bisa dibilang tidak sedikit. Salah satu contohnya adalah ada satu direktorat dari kementrian tersebut yang selama tiga hari mengadakan konsinyering membuat pertunjukan paduan suara yang menghabiskan dana sekitar Rp 200.000.000,- ditambah biaya lain saat pre-event. Selain itu, juga mengadakan kegiatan gerak jalan yang menghabiskan biaya sekitar Rp 20.000.000,-. Dari total biaya sekitar Rp 220.000.000,- tersebut hanya dikeluarkan dari satu direktorat, belum lagi sebelas Eselon I lainnya, berapa milyar? Silahkan dicek di KPPN. Sekian banyak anggaran negara yang berasal dari uang rakyat hanya digunakan untuk sebuah acara selebrasi yang mungkin hanya berisikan euforia belaka, tanpa ada impact langsung kepada rakyat yang seharusnya menikmati uang mereka dengan bentuk lain seperti pembangunan atau perbaikan fasilitas dan infrastruktur. Pertanyaannya, apakah uang rakyat tersebut tidak bisa lebih berguna dari sekedar digunakan untuk perayaan tahunan yang rakyat sendiri tidak menikmatinya? Terbiasa menggunakan hak orang lain untuk kepentingan yang kurang bermanfaat apalagi kepentingan pribadi akan membentuk sikap egois, mengikis kepedulian terhadap sesama, atau bahkan saling “bunuh” antar saudara selama peraturan melegalkannya.

Sumber Gambar: Ditjen Pajak

Budaya Kecil Antikorup

Tindakan-tindakan kecil yang bisa memutus rantai-rantai korupsi sekaligus menyebarkan dan membangun budaya antikorupsi diantaranya:(1) Disiplin, baik disiplin waktu dan disiplin peraturan, tanpa kedisiplinan, memungkinkan semua urusan tercampur adukan kemudian mudah sekali untuk mendorong kepada penyelewengan-penyelewengan;(2) Kerja keras, jika ingin mendapatkan yang terbaik dan membuktikan bahwa layak mendapatkannya, dilakukan dengan kerja keras. Selain itu, kebiasaan kerja keras akan membentuk mental yang kuat jauh dari mental korup;(3) Toleransi, diartikan bahwa peduli terhadap sesama, menyadari hak untuk pribadi dan hak untuk kepentingan masyarakat umum. Semua kebiasaan kecil tadi bisa membantu untuk membangun budaya antikorup hanya jika kebiasaan tersebut atau kebiasaan-kebiasaan yang lain dilandaskan pada dua hal, yaitu kejujuran dan kepercayaan. Pemberantasan korupsi bukan hanya tugas KPK, tapi utamanya merupakan tugas kita bersama. Ibarat pertandingan olahraga, kita adalah pemain inti, KPK hanyalah pemain cadangan, dan juga karena KPK adalah lembaga ad hoc

Inspirasi Dari Film Kita Versus Korupsi

Hal yang paling menggugah dan memberikan inspirasi untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan korupsi dari film Kita Versus Korupsi adalah pada film yang berjudul “Aku Padamu” dan “Selamat Siang Risa”. Di dalam dua film ini sama-sama menggambarkan sikap anti korupsi terbentuk akibat kejadian masa kecilnya, tapi yang membedakan diantara keduanya adalah di film “Aku Padamu” terbentuk sifat karena trauma dengan pengalaman masa lalu yang terjadi pada orang terdekatnya, yaitu guru kesayangannya dan ayahnya sendiri. Sedangkan di film “Selamat Siang Risa” terbentuk sikap karena memang budaya antikorup sudah menjadi nilai dalam keluarganya. Memang sebaiknya kita mencontoh sikap dari film “Selamat Siang Risa”.

Saya suka kutipan Nicholas Saputra pada film “Aku Padamu” ,If you wanna do right things, Lets do it right way. Kutipan tersebut mengingatkan pada cerita teman saya di Pabrik Gula Kendal. Pabrik gula ini selalu berusaha menjalankan kedisplinan yang mengadopsi sistem dari Jepang, seperti sistem KANBAN dan sitem Gemba (5S), dan hal yang paling mengingatkan saya adalah hampir di seluruh pabrik tersebut selalu tertempel tulisan “Jangan Membenarkan Kebiasaan, Tapi Biasakanlah Yang Benar”, saya kira hampir mirip dengan kutipan film itu. Sedangkan pada film “Salamat Siang Risa” dikatakan bahwa kebaikan akan melahirkan kebaikan selanjutnya. Menurut saya berlaku juga sebaliknya kebusukan akan melahirkan kebusukan selanjutnya, dan untuk memutusnya hanya bisa menggunakan gunting kejujuran.

Bagaimana dengan memutus mata rantai korupsi? Apakah memang harus potong generasi, mereka yang korup dan mereka yang mungkin sudah terkontaminasi digantikan wajah-wajah baru yang masih punya sikap dan kepercayaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s