Water Palace: Keindahan Taman Ujung Di Ujung Bali

Pulau Bali, sekali lagi saya berkesempatan untuk berkunjung ke tempat yang mempunyai penduduk dengan lokalitas masih sangat kental, dimana budaya, adat, dan kepercayaan masih menjadi suatu hal yang diusung tinggi.

Kunjungan saya di Bali kali ini bukan dipusat kota Denpasar dan sekitarnya, melainkan tempat yang ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari Denpasar ke arah timur, tempat di dekat kaki Gunung Agung, yaitu Kabupaten Karangasem dengan pusat pemerintahan Amlapura. Di ujung timur pulau ini terdapat sebuah peninggalan dari salah satu kerajaan yang pernah ada di Bali, yaitu Kerajaan Karangasem, dan peninggalan dari kerjaan tersebutlah yang ingin saya ceritakan kali ini.

Sore itu tidak lama setelah saya menyusuri jalan-jalan kecil satu arah di pusat kota Amlapura, saya berhenti di depan sebuah gapura besar  komplek bangunan tua, komplek dengan pohon-pohon rindang didepannya, yang membuat suasana sore itu agak sedikit sejuk walaupun belum pernah diguyur hujan sekalipun karena mendung yang selalu diusir oleh penduduk yang sedang punya gawe. Kota yang tidak lebih besar dari kecamatan di kampung halaman saya tersebut mempunyai suatu peninggalan dari raja yang pernah berkuasa di tempat itu, Puri Agung Karangasem yang sampai sekarang masih didiami oleh keturunan raja yang disebut Pelingsir. Begitu saya masuk di Puri ini saya langsung disambut oleh seorang yang sekiranya seperti abdi dalem yang bertugas merawat Puri ini,  karena memang saya tidak sendiri, saya ditemani orang yang sudah kenal dengan tempat ini, untuk selanjutnya dipersilakan berkeliling melihat-lihat Puri Agung tersebut.

DSC_0150

Puri Agung Karangasem

Sumber Gambar: Dok. Pribadi

Hari berikutnya saya kembali menulusuri terik siangnya jalan  Karangasem, tapi bukan ditengah kota melainkan ke ujungnya, ke taman keluarga raja. Taman Air Tirta Gangga dan Taman Soekasada Ujung, dua istana air (water palace) yang merupakan satu kesatuan dari Puri Agung Karang Asem sebagai sentralnya. Kedua taman ini dibangun oleh Raja Karangasem terakhir, Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem alias Gusti Ketut Jelantik yang selesai pada tahun 1921 dan 1922. Kedua taman yang dibangun oleh arsitek otodidak ini memadukan arsitektur gaya Bali dengan ukiran wayang, gaya Indis dengan bentuk bangunannya, dan gaya cina yang terlihat dari balai bengong, dan tentunya berhias ornamen yang selaras dengan spirit Puri Agung

Saya menuju arah bukit yang terlihat di sebelah utara dari Puri Agung, ke Taman Tirta Gangga. Air jernih senantiasa mengalir di taman yang terdiri dari kolam teratai, pemandian dan tempat peristirahatan raja, yang hingga saat ini pemandian tersebut masih digunakan oleh pengungjung. Pada mulanya taman ini adalah sumber air yang digunakan penduduk untuk mencari minum dan juga tempat penyucian Ida Betara (para dewa), kemudian dijadikan taman yang konon sebagai tempat raja mengolah kanuragan dan mencari inspirasi.

Taman Tirta Gangga

Kolam Tirta Gangga

Sumber Gambar: Dok. Pribadi

Beranjak ke arah pantai sebelah selatan, saya temukan Taman Soekasada Ujung. Untuk menikmati taman ini, pengunjung lokal cukup merogoh 5000 rupiah saja, sama halnya di Tirta Gangga. Saat melangkah ke dalam taman ini, pikiran yang terlintas pertama kali adalah Taman Sari milik Sultan Yogyakarta, entah apakah fungsinya sama atau tidak. Taman yang terdiri dari bangunan utama tempat keluarga raja, balai bengong, beberapa kolam teratai, dan balai kapal yang berfungsi sebagai apa saya juga kurang tahu, digunakan oleh Raja Karangasem untuk tempat istirahat sekaligus tempat menerima tamu-tamu penting dari kerajaan lain maupun negara lain.

Lewat jalan diantara kolam teratai saya naik anak tangga yang menuju sebuah bangunan yang sudah rusak oleh guncangan gempa Gunung Agung,  Balai Kapal. Dari balai ini saya bisa menikmati pemandangan bukit di sebelah kiri dan hamparan laut yang hanya berada diseberang kanan jalan. Berdiam diri sejenak ditempat itu seperti menjadikan saya tahu bahwa tempat ini dibangun pada keseimbangan kosmologi lewat visualisasi alam yang saya lihat.

Taman Soekasada Ujung

Balai Kapal Taman Soekasada

Taman Ujung

Sumber Gambar: Dok. Pribadi

Di ujung pulau yang kaya unsur spiritual ini, saya menghabiskan tiga hari untuk menikmati lokalitas dan budaya yang dibangun diantara keseimbangan alamnya. Serasa mengalir begitu saja seperti sungai yang menyatu di lautan

“Sungai-sungai mengalir menuju satu tujuan, mereka menyatu di hamparan laut yang luas, tidak lagi berlabel, tidak lagi terkotak-kotak”

GOGIK

2 thoughts on “Water Palace: Keindahan Taman Ujung Di Ujung Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s