1 Suro di Lawu Bersama Pendaki dan Mereka Yang Berbekal Sesaji Juga Doa

Hampir lewat tengah malam, setelah menyruput beberapa gelas teh hangat dan kopi, saya dan rombongan berdelapan beranjak dari warung di basecamp Cemoro Sewu menuju jalan setapak yang sudah tertata dengan batu. Malam itu adalah malam tahun baru hijriah atau orang jawa lebih mengenalnya dengan malam 1 suro. Suasana di Gunung Lawu terlihat sangat ramai sekali, pemandangan yang sudah umum saat menjelang pergantian tahun.

Tanggal 14 November saya sampai di Jogja kemudian singgah di kosan teman lama untuk sejenak istirahat dan tidur setelah perjalanan semalam dari Jakarta sendirian, sebelum menuju Solo. Jam 5 sore saya sudah berada di bus Jogja-Solo yang berjalan tidak lebih dari 40km/jam karena padatnya kendaran yang ada di jalan Jogja sampai Prambanan, kemudian tiba di Solo dan berkumpul jam setengah 8.  Start dari Solo sekitar jam 8, naik motor kami menuju Karangayar ke Pos Pendakian Cemoro Sewu Gunung Lawu.

Setelah cukup mengisi perut dan menghangatkan badan, kami menuju pos penjagaan dan membayar Rp 7500 masing-masing orang untuk masuk camping ground dan jalur pendakian. Bekal logistik yang kami bawa tidak banyak, karena setiap suro warung di pos-pos Lawu siap menyediakan minuman hangat, pecel, soto dan gorengan bagi pendaki yang memadati jalur pendakian.

Benar saja, setelah satu jam perjalanan dari titik awal pendakian kami tiba di Pos satu, ada warung dengan aroma gorengan yang sudah ramai oleh pendaki. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan karena angin dingin sudah mendorong untuk berjalan memanskan tubuh lagi. Sayangnya ditengah perjalanan ke Pos dua ada teman saya yang memutuskan untuk kembali ke Pos satu dan menunggu disana, perjalanpun dilanjutkan dengan tujuh orang.

Perjalanan dari Pos satu ke Pos dua adalah yang paling panjang, walaupun dengan medan yang masih agak landai. Setelah dua jam perjalanan kami sampai di Pos dua dengan warung yang dipadati lebih banyak pendaki lagi. Sebagian dari kami memutuskan untuk tidur dulu disini, ngemper (karena sudah tidak kebagian tempat mendirikan tenda dan warung juga sudah penuh), dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan. Keesokan paginya, keempat teman saya memutuskan untuk turun tidak melanjutkan perjalanan, saya pun sendiri untuk muncak menyusul dua teman yang sudah duluan tadi malam.

Lawu

Sumber Gambar: Dok. pribadi

Perjalanan dari Pos dua sampai Pos lima medan sudah makin curam, tapi perjalanan ini yang paling menarik bagi saya. Di tengah jalan saya bertemu dengan ramainya pendaki dari berbagai tempat, termasuk beberapa bule. Saya juga  bertemu dengan orang-orang yang sudah agak sepuh dengan pakaian biasa (tanpa membawa perbekalan dan hanya nyeker) dan juga yang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala batik khas kejawen. Saya juga sempat naik dengan angota SAR yang berulang kali memperingatkan pendaki untuk tidak memetik dan membawa turun Edelweis. Selain itu ada beberapa spot  seperti Sumur Jalatundha dan Sendang Drajat yang sudah banyak ditaruh kembang dan kemenyan serta beberapa orang yang melakukan ritual tertentu terkait cerita historis Gunung Lawu. Di atas Pos dua tenyata masih ada beberapa warung lagi, kecuali di Pos tiga dan empat. Di tempat yang bernama Pawon Sewu, tempat padang rumput luas yang katanya adalah kuburan para pengikut Prabu Brawijaya V, masih ada dua warung dengan kepulan asap yang menyediakan pecel dan soto, tapi tidak minuman hangat karena persediaan air sudah habis, air dari Sendang Drajat dan Sumur Jalatundha pun juga sedang kering.

Sekitar Pawon Sewu Lawu

Sumber Gambar: Dok. pribadi

Sampai di Puncak Hargo Dumilah, matahari sudah agak menyengat karena memang jarum pendek di jam saya sudah berada tepat di angka sepuluh, tapi diantara ramainya pendaki saya belum bertemu dengan kedua teman saya yang sudah naik duluan (yang juga saya harapkan membawa kamera karena saya lupa tidak bawa). Sejenak saya menikmati pemandangan di atas awan sambil merenung mengenai sepanjang perjalan tadi. Tak beberapa lama kedua teman saya terlihat, yang ternyata belakangan sampai di puncak. Setelah mengambil beberapa gambar, kami bergegas turun karena satu teman saya sudah menunggu di basecamp pendakian sendirian.

Puncak Hargo Dumilah

Sumber Gambar: Dok. pribadi

Perjalanan singkat dengan pemandangan yang cukup menarik, walaupun saya agak terlambat menangkap momentum saat itu. Paling tidak perjalanan yang sudah membuat saya berfikir dan secara pribadi mengerti makna dasar dari bertirakat.

Gogiks

Sumber Gambar: Dok. pribadi

“Bertirakat adalah kembali ke dasar, pembelajaran untuk menjalani dan mensyukuri, karena seperti roda yang berputar, bahwa hidup tidak selamanya di atas, dan kita juga harus siap untuk berada di bawah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s