MENEMUKAN PANCASILA DALAM ISU MULTIMINORITAS DAN GLOBALISASI

Sebagian besar atau bahkan mungkin semua orang Indonesia tahu bahwa Pancasila berisi lima dasar pedoman bernegara. Pertanyaannya adalah bagaimana eksistensi Pancasila tersebut? Dalam artian pemahaman terhadap nilai yang terkandung dari kelima sila dalam berkehidupan, terutama kehidupan bangsa Indonesia yang tidak hanya plural tapi multiminoritas. Apakah Pancasila masih sakti?

Negara dengan latar belakang kultur, suku, agama, dan bahasa yang beraneka ragam dan dapat hidup di dalam keberagaman tersebut merupakan sebuah karunia dan kebanggaan dari suatu bangsa, seperti yang seharusnya terjadi pada bangsa Indonesia ini. Persoalannya adalah perilaku saling tuding dengan isu minoritas-mayoritas yang berlatarbelakang budaya, suku, agama, dan bahasa sehingga tercipta sikap diskriminatif telah membentuk Indonesia sebagai bangsa yang multiminoritas. Minoritas bukan hanya berarti kelompok-kelompok yang kecil yang ada di Indonesia. Jawa menjadi suku mayoritas di Indonesia, tapi saat seorang Jawa berada di Papua atau di Aceh maka Jawa itu akan menjadi minoritas.

Sejarah telah memperlihatkan bahwa betapa bangsa ini sudah tidak paham akan nilai Pancasila sebagai landasan berpikir dan berperilaku, dilihat dari merebaknya konflik separatis yang mengatasnamakan ketidakadilan terhadap etnis tertentu. Konflik yang mengatasnamakan agama-sekularisme juga tidak sedikit menorehkan sejarah gelap bangsa ini, dengan terjadinya teror terhadap suatu pemeluk agama dan kepercayaan tertentu. Hal tersebut salah satunya dikarenakan pemahaman terhadap sila pertama Pancasila hanya sebatas pada konsep ketuhanan, terkesan hanya supaya Indonesia ada bau-bau ketuhanan, belum sampai pada tahap mengikutsertakan Tuhan di dalamnya. Gede Prama mengatakan bahwa setiap agama punya home masing-masing, yaitu semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan sebagai jalan setiap pemeluknya untuk menemukan Tuhan.

Sebenarnya nasionalisme yang luntur tidak hanya dipicu karena masalah diskriminasi antar suku dan agama saja, tetapi masuknya budaya asing yang diserap secara berlebihan telah membuat bangsa ini sedikit demi sedikit kehilangan identitas aslinya. Penyesuaian terhadap suatu budaya hendaklah dilakukan pada suatu tahap tertentu. Kriteria yang menjadi dasar seleksi dan adaptasi atau penyesuaian tersebut masih sering diabaikan, sehingga nilai yang pakai menjadi keliru. Sebuah nilai tidak dengan sendirinya harus dianggap ideal karena berasal dari budaya yang dibanggakan, misalnya dalam arus globalisasi ini suatu nilai tidaklah musti dianggap baik karena berasal dari budaya asing, bukan nilai dari suatu budaya Indonesia. Budaya asing yang berlebihan memang buruk, akan tetapi nativisme juga akan sama konyolnya. Emha Ainun Najib pernah menuturkan bahwa “Jowo kudu digowo, Barat kudu diruwat, Arab kudu digarap”, yang berarti bahwa identitas asli Indonesia tidak boleh ditinggalkan, sedangkan nilai-nilai dari luar (seperti budaya Barat dan Arab) tidak hanya ditelan secara mentah, tapi harus diproses untuk menunjang pengolahan sikap demi mencapai watak kemajuan bangsa ini.

Banyak sekali pihak yang melupakan bagaimana cara memajukan bangsa Indonesia dengan tetap membawa nilai keindonesiaan (nasionalisme). Sebagai contoh di dunia pendidikan, lembaga atau institusi pendidikan dibangun berbasis internasional. Seringkali mereka melupakan nilai-nilai keindonesiaan itu sendiri karena terlalu terpesona dengan kemajuan sistem dan teknologi bangsa asing, sehingga tidak sadar mereka telah menghasilkan sinyo-sinyo baru bukannya generasi pemuda-pemuda Indonesia. Perkembangan perekonomian yang seharusnya mengacu pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sekarang sudah tidak tahu arahnya kemana. Ideologi pembangunan sudah tidak jelas. Perkembangan sistem ekonomi yang dipakai hanya berpindah dari satu stereotip ke stereotip lain. Sistem ekonomi kapitalis bisa diambil guna memacu pertumbuhan ekonomi, dan sistem ekonomi sosialis sebagai landasan pemerataan pertumbuhan tersebut. Bukan malah melunturkan nilai keadilan, sehingga hedonisme pop menjadi gaya hidup bagi mereka yang mampu, dan pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh mereka yang berkuasa. Kita bangga bahwa pertumbuhan ekonomi kita di atas 6% per tahun, tapi angka tersebut seharusnya tidak hanya diambil dari sana dan di tempel disini. Keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari indikator pertumbuhan ekonomi saja tapi indikator kesejahteraan sosial yang merata perlu juga dilibatkan. Oleh karena itu perlu dipahami lagi bahwa seharusnya nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi sebuah dasar dan etika moral.

Pertanyaan berikutnya, apakah Pancasila masih sakti? Pancasila jika dijadikan sebuah slogan saja hanya akan melahirkan sebuah hipokrisi yang entah bisa dimengerti maknanya atau tidak, mungkin hanya akan menjadi pajangan saja. Di negeri ini sumber daya alam berlimpah, cendekiawan tidak kurang banyaknya, fasilitas keilmuan juga lengkap, seharusnya semua itu bisa merubah negeri ini untuk terus menjadi lebih baik, jika kualitasnya berbanding lurus dengan kuantitas. Pancasila memang bukan kitab suci yang tidak bisa disalahkan, dan jangan salahkan Pancasila jika tidak bisa mengobati penyakit negeri ini, karena tingkah laku masyarakatnya yang seharusnya diubah. Seharusnya diadakan sebuah refleksi terhadap eksistensi nilai Pancasila, perlu dipahami, ditafsirkan, diterjemahkan, dan dianalisis agar Pancasila bisa menjadi sakti, tidak hanya di hari Kesaktian Pancasila, tapi kapanpun itu.

Negara yang multiminoritas ini tidak bisa disebut saling menghargai perbedaan di setiap unsur-unsur di dalamnya. Perlu diketahui bahwa memutlakkan satu hal adalah sama jeleknya dengan memutlakkan hal lain. Menghargai perbedaan berdasarkan sebuah sila tidak bisa lepas dari acuan sila-sila yang lainnya. Perbedaan dalam bertuhan harus juga berpegangan pada prinsip persatuan Indonesia. Delegasi-delegasi yang mewakili rakyat bisa mewakili kepentingan rakyat hanya jika mengerti makna kemanusiaan yang adil dan beradab, dan kemanusiaan yang adil dan beradab juga tidak akan bisa menjadi benar-benar adil jika tidak tahu arti keadilan dalam tataran sosial yang menyeluruh. Semua sila menjadi satu kesatuan dalam sebuah nilai Pancasila, sebagai referensi nilai dalam menentukan visi dan posisi, juga sebagai kriteria untuk melakukan kritik terhadap diri sendiri, dimulai dari pemikiran, karena dari pemikiran mungkin akan menjadi ucapan, kemudian ucapan mungkin menjadi tindakan, dan tindakan akan menjadi kebiasaan. Evaluasi terhadap pemikiran yang sehat hendaknya dilakukan secara kritis, karena kebiasaan yang telah dilakukan akan membentuk karakter yang akan melahirkan suatu budaya, jika budaya berjalan dalam kurun waktu tertentu akan menjadi sebuah peradaban. Jadi peradaban dari bangsa yang multiminoritas dalam era globalisasi ini dibentuk dari pemikiran tentang suatu nilai sebagai unsur konstitusi yang telah dianut.  Pancasila seharusnya dijadikan sebagai unsur konstitutif yang menentukan watak dan kepribadian negara Indonesia.

Menemukan roh Pancasila ditengah isu multiminoritas dan globalisasi bisa dari tempat yang paling sederhana dan bidang yang kita cintai, yang menjadi bagian dari pergaulan hidup kita sehari-hari. Di dalam masyarakat Jawa ada tradisi yang mencerminkan ciri gotong-royong yang disebut tradisi rewangan. Rewang adalah tradisi masyarakat yang secara sukarela membantu mengurus segala keperluan keluarga atau tetangga yang sedang punya hajat seperti kenduri atau perhelatan acara adat. Rewang adalah wadah kesadaran sosial bagi masyarakat yang mencerminkan keharmonisan dalam kekerabatan antara masyarakat guna bersosialisasi dan menjaga hubungan komunikasi dalam suatu masyarakat tersebut. Nilai dari tradisi seperti rewangan ini dapat menjadi sarana pembelajaran guna membentuk rasa solidaritas dan membentuk rasa handarbeni (saling memiliki). Dua nilai dari rewangan yaitu solidaritas dan rasa handarbeni saling percaya bisa menjadi jalan kebhinnekaan menuju eka.

Warung bersahaja di pinggir jalan juga mampu menghidangkan sepiring demokrasi bagi rakyat Indonesia di tengah pesatnya perkembangan globalisasi. Warung seperti itu tidak membedakan siapa yang dari kelas elit atau rakyat jelata, semua diperlakukan sama dan adil. Tempat ini mengajarkan bahwa setiap orang mampu beremapan-papan dengan realitas di lingkungan urban.

Seorang sastrawan senior, Umbu Landu Paranggi pernah berkata, bahwa delegasi senayan tidak paham makna seperti yang ada di dalam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, sehingga mereka tidak paham debar, tidak tahu sejarah di susun dari darah. Ajaran dalam Gurindam Dua Belas sebenarnya bisa menuntun manusia Indonesia untuk berperilaku sesuai dengan status primer mereka sebagai manusia. Beliau juga berkata bahwa semua kegiatan seni sesungguhnya adalah kesetiaan terhadap kehidupan puisi. Sama seperti kegiatan ‘operasional’ bangsa Indonesia yang multiminoritas di era globalisasi ini, taruh puncaknya pada kesetiaan dalam mengamalkan nilai Pancasila.

5 thoughts on “MENEMUKAN PANCASILA DALAM ISU MULTIMINORITAS DAN GLOBALISASI

  1. Pingback: Pengumuman Pemenang Lomba Blog | Pusaka Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s