Keadilan Berjalan Melalui Kebebasan

Tempo hari saya melihat sebuah kicuan antar dua orang tentang eksistensi keadilan dalam kehidupan. Apakah kehidupan yang di jalani manusia sebenarnya sudah adil, atau memang sengaja dibuat tidak adil? itu yang kiranya mereka persoalkan. Keduanya melihat dari perspektif yang sama, yaitu tentang bagaimana tangan Tuhan bekerja dalam menentukan nasib manusia. Seorang dari mereka berpendapat bahwa kehidupan di dunia sudah adil karena Tuhan sudah mengaturnya sedemikian rupa, manusia memperolehnya dengan bersyukur. Seorang yang lain menanggapi bahwa kehidupan sengaja diciptakan tidak adil, agar manusia terus berusaha untuk bertahan hidup dengan tidak hanya menengadahkan tangan berharap keadilan turun dari langit. Masing-masing dari pandangan tersebut mempunyai segi yang positif. Lalu bagaimana sifat dari keduanya pada realitas yang sesungguhnya? Mungkin lebih tepatnya bagaimana menguraikan kedua pendapat tersebut.

Di dalam sebuah paham yang dinamakan meliorisme realistis, bisa dikatakan bahwa secara kodrati Tuhan telah memberikan kehidupan yang adil bagi setiap manusia, yang disebut kebebasan esensial. Volume kebebasan yang diberikan tentu berbeda antara satu individu dengan individu lain. Oleh karena itu harus diakui adanya ketidaksempurnaan atau batasan-batasan. Posisi yang diambil oleh meliorisme realistis adalah menerima ketidaksempurnaan sebagai sebuah realitas, sambil percaya bahwa ketidaksempurnaan tersebut dapat disempurnakan secara terus menerus. Batasan-batasan yang ada memang harus diakui, tapi batasan-batasan tersebut juga dapat diperlebar dan diperluas dengan usaha dari setiap individu, sehingga tercipta suatu kebebasan fungsional.  Kualitas penggunaan kebebasan yang telah disediakan merupakan hal yang menentukan seberapa besar keadilan diperoleh manusia. kebebasan Sumber Gambar

Aktivis tahun 65, Soe Hok Gie berkata, “Keadilan hanya ada di langit dan dunia adalah palsu”, mungkin dia merasakan tekanan psikis yang teramat berat saat bertubrukan dengan realitas pada zaman nya, dimana kebebasan secara esensial terlalu dikekang oleh penguasa. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya mengutuk keadaan, dia juga bersyukur bisa mengenal masyarakat lebih dekat melalui kegiatan di alam dan juga melalui legitimasi   akibat dari usaha mencapai kedudukan fungsionalnya.

Akan lebih bijak jika kita membaca bagaimana ralitas ini berjalan, melalui tanda-tanda lingkungan sekitar kita, dari pada kita terlebih dahulu menebak apakah sebenarnya Tuhan memberikan kehidupan yang adil atau tidak. Manusia memang diwajibkan untuk berusaha, tapi juga jangan memungkiri bahwa ada hubungan timbal balik saat kita mengerti cara berkomunikasi dengan alam kosmik, salah satunya lewat rasa syukur.

“Salah satu nilai falsafah bangsa Indonesia adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sebenarnya apakah itu adil? Apakah itu adab?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s