Utopis

Matanya yang hitam memandang tajam, jauh kedalam awan dan kabut, seakan ada sesuatu yang hendak dia jemput. Dia duduk diam menerawang di bibir jurang, tak peduli angin dingin menyaput wajahnya yang pucat tanpa bisa menjadi lebih pucat lagi.

Tiba-tiba dari bibirnya merekah senyuman, seiring merekahnya semburat fajar dari batas cakrawala. Kini mata hitamnya membidik siluet batu-batu raksasa dari momentum yang sedari tadi ditunggunya. Mungkin dalam hati dia bersyukur para Punokawan terpeleset saat memindahkan puncak Gunung Merapi atas perintah para dewa, kemudian menjatuhkannya disini.

Diam-diam dia juga mengamati kepada dua orang lelaki dan perempuan yang tertawa meluapkan kebahagiaanya, luapan kebahagiaan yang datang dari masa lalu, seperti perasaan yang datang setelah sengaja dipendam pada masa dulu.

Kembali tersungging senyuman di wajahnya, melihat si perempuan tampak senang bertemu kembali dengan si lelaki walaupun masing-masing telah memilih laku yang berbeda. Tapi sebenarnya dimensi awal mereka bertemu menjadikan mereka tidak bisa berbeda.

***

Ia kini terlihat mantap dengan dirinya yang sekarang. Dari caranya bicara, sepertinya ia telah benar-benar menemukan alamat di ujung jalan yang telah ia ambil. Ia sudah tidak lagi cemas dengan masa lalu. Ia merasa tidak ingin kembali kepada masa lalunya yang lebih berwarna, bahkan ketika orang lain merindukan masa lalu mereka

Di atas sini, sinar matahari seperti menyoroti caranya tertawa dengan si lelaki, tawanya belumlah berubah. Caranya berjalan masih sama saat pertama mereka bertemu. Cara ia menyapa terasa hangat diantara dinginnya kabut dan sapuan angin, sampai terasa oleh dia yang diam-diam tersenyum, memang sedikit banyak perasaan perempuan itu sama.

Tapi mungkin sejak dulu jalan ia dengannya sudah berbeda. Kini mereka bertemu saat sudah menjadi manusia yang berbeda, walaupun keduanya baru pertama kali menginjak puncak yang sama. Ia yang kini lebih matang dan si lelaki yang kini kian tenang.

***

Aku adalah bagian dari perasaan dia dan ia. Aku ikut bersama mereka melihat kerlap-kerlip ribuan lampu kota dibawahnya, ikut mendengarkan mereka bercerita bersama jutaan bintang di atasnya, dan ikut  merebahkan tubuh yang lelah bersama deru angin malam diantaranya.

Aku hanya mengumpulkan potongan pita rekaman dari perasaan yang tersirat di wajah mereka kemudian menyambungkannya dengan pikiran-pikiran utopis.

                         Klaten, 16 Agustus 2013

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s