Ingin Pulang

Kereta menderu, orang mendengkur. Seisi gerbong terlelap, ada yang duduk mangap, ada juga yang memakai selimut untuk gelaran dibawah. Beberapa sambil memeluk tasnya, entah takut  hartanya bakal dicuri atau  memang mereka nyaman seperti itu. Tas yang mungkin hanya berisi sepotong atau dua potong baju, harta satu-satunya yang mereka miliki untuk mengadu nasib di kota. Mereka yang meninggalkan tanah kelahirannya dan berharap nasibnya akan lebih baik di kota serba semrawut. Kota yang penuh suara mobil karena harganya murah, juga kota yang menjerit keras seiring harga tempe mahal.

Kereta menderu, orang mendengkur. Di sudut gerbong Mas Jon masih terjaga, memandang keluar jendela. Kopi yang  sudah dari tadi di pesan kini telah dingin karena belum juga disentuhnya. Dia tidak berselera untuk sekedar menyeruput kopi tersebut, bukan karena tidak bisa sambil menikmati beberapa isapan tembakau, tapi lantaran pikirannya sedang sibuk menerawang kebelakang. Hatinya tidak tenang, ada rasa rindu yang menggelayut, rindu kepada kampung dan orang-orang yang baru saja ia tinggalkan.

Kereta menderu, orang mendengkur. Beberapa pedagang masih menjajakan dagangannya, menyusuri gerbong tua mencari rejeki untuk sesuap nasi. Mas Jon masih betah diam memandang keluar gerbong, pikirannya makin menarawang kesana kemari.

“Apakah besok aku akan menjadi seperti mereka? Apakah aku juga akan tenggelam dan menjadi bagian dari kesemrawutan kota?”. Pertanyaan demi pertanyaan datang dalam pikirannya yang mulai kacau.

“Bukankah seperti kemarin saja sudah enak, ada kekasih dan teman-teman yang selalu tertawa bersama. Kalau sudah capek ketawa tinggal pulang tarik selimut, kenapa harus pergi?”. Batinnya.

“Hoaahm… Lhoh belum tidur mas? Orang yang dari tadi pulas di samping Mas Jon tiba-tiba terbangun.

“Pegel juga semalaman duduk tidur begini. Namanya juga kereta murah, yang penting sampai tujuan, bisa tidur juga sudah untung”, ujarnya tanpa ditanya.

Mas Jon hanya melirik sambil berusaha tersenyum. Sapto, orang yang duduk disebelah Mas Jon adalah salah satu dari mereka yang ingin mencari harapan di kota. Dia pergi meninggalkan  istri beserta anaknya yang masih kecil untuk menjadi kuli bangunan di hutan beton yang terus tumbuh sumpek.

“Mas kok enggak kerja di desa aja? Kenapa jauh-jauh pergi ke kota?” Tanya Mas Jon.

“Lhaaah.. di desa enggak ada yang digarap mas, jangankan sawah, rumah aja cuma punya sepetak, warisan orang tua. Orang yang cuman tamat SMP kayak saya ini ya cuma bisa kerja kasar jadi kuli, ikut borongan di kota mas, yang penting bisa makan, anak bisa sekolah.”

Mas Jon kembali melihat jendela, terbayang euforia wisuda temannya yang dirayakan bersamanya kemarin, juga wisudanya dulu. Hari dimana semua orang meluapkan kebahagiaannya, membumbungkan cita-citanya lebih tinggi lagi.

“Ah mungkin dia yang satu itu memang bisa membuat suasana berbeda, dia memang selalu terlihat paling ceria di antara yang lain. Memang senyumnya, tertawanya, dan cara bicaranya lebih hidup, berbeda dari yang lain”. Katanya dalam hati.

“Mas sendiri mau kemana? Kerja juga?” Tanya Sapto penasaran melihat lamunan Mas Jon.

“Saya cuma ikut kereta ini mau berujung kemana mas”. Jawabnya sambil terus memandang keluar jendela.

Sapto melongo, wajahnya nampak bingung, tidak mengerti apa yang diucapkan orang di sebelahnya itu.

“Orang yang aneh, sepanjang malam cuma melamun keluar jendela, di tambah tidak tahu mau kemana”. Pikir Sapto.

Orang masih saja mendengkur. Kereta terus melaju, membawa Mas Jon sampai ke ujung dunia. Mas Jon masih saja memandang keluar jendela, dari matanya terpantul cahaya kuning lampu merkuri di luar gerbong yang bergerak kebelakang seiring laju kereta membawanya. Pikirannya masih sibuk berkutat dengan kenangan masa lalu dan bayangan masa depan.

Walaupun kereta ini akan membawanya keliling dunia, ia yakin tujuan terakhirnya adalah pulang. Selama dunia masih bulat, yang namanya pulang adalah rumah, bertemu dengannya, dengan kekasihnya, dan teman-temannya.

Jakarta, 13 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s