Berjalan

Langit masih gelap, Mas Jon berjalan dibawah cahaya kuning lampu merkuri yang sudah kusam oleh debu dan serangga. Rambutnya acak-acakan, mukanya masih kusut, terlihat sisa-sisa kantuk diujung matanya, dengan mengenakan sweater kumal dia menyusuri trotoar sudut jalan kota itu. Setiap lima langkah dia selalu menguap, entah karena mengantuk atau sudah bosan dengan ritual yang dilakukannya setiap hari, menyusuri jalan yang sama di antara malam dan pagi.

Jalan yang memanjang dengan deretan bangunan berwarna putih tersebut seperti pita kaset yang merekam jejak manusia sebelum bangsa ini lahir sampai sekarang. Kantor tua sisa perjuangan, kios yang menjajakan makanan resep leluhur, sampai toko modern yang berlomba memajang iklan diskon, saling berdampingan dan semua berwarna putih dibawah langit yang masih gelap.

Dipinggir jalan tersebut terlihat seorang alim berdiri menengadahkan tangannya ke atas, seorang perempuan dengan lipstik merah dan bibir basah menggaruk-garuk kepalanya, terlihat bingung menunggu sesuatu yang tak kunjung datang, sekelompok orang berdasi yang tertawa keras sambil memegang botol bir, dan seorang pemuda yang tidur berselimutkan spanduk bertuliskan “Fight for Clean Goverment”. Mas Jon berjalan lurus dengan tatapan kosong, seolah dia sudah hafal nasib dan kelakuan setiap makhluk yang ada disana, bahkan sampai yang terkecil.
“Den, kasihan den, belum makan dari tadi.” Tiba-tiba seorang pengemis kecil muncul di depannya.

Mas Jon merogoh kantong celana jeans yang tidak kalah kumal dari sweaternya. Dia mengeluarkan lima lembar uang ribuan yang tersisa dikantongnya, dan memberikan selembar kepada pengemis tersebut.

“Makasih den, semoga makin banyak orang baik seperti aden ini, biar saya nggak susah-susah amat nyari makan.” Ujar si pengemis yang kemudian pergi menghampiri seorang perempuan dekil di pojok jalan.

Mas Jon menatapnya sebentar sambil menguap untuk kesekian kalinya. Angin berhembus diantara gesekan-gesekan daun, ranting berderak, dia kembali berjalan sambil merapatkan tubuhnya.

Langit masih gelap, sesekali Mas Jon menoleh kebelakang, sepertinya ada sesuatu yang akan lewat dan sedang dia tunggu. Dari ujung jalan hanya terlihat daun dan sampah yang diterbangkan angin, tidak ada tanda-tanda sesuatu akan lewat. Mas Jon kembali berjalan.

Kini Mas Jon sampai di ujung jalan, dia berhenti di sebuah warung dengan penerangan remang-remang lampu petromak.

“Kopi hitam satu Pak.” Ujarnya kepada pemilik warung.

“Eh Mas Jon… Seperti biasa mas? Kopi dua sendok, gulanya satu seperempat?” Tanya pemilik warung yang sudah hafal dengan takaran kopi favoritnya.

“Iya Pak Parmin, yang kayak biasanya.” Jawab Mas Jon kepada Parmin pemilik warung.

“Gimana Pak kabarnya?” Tanya Mas Jon sambil menyeruput kopi yang masih mengepul.

“Hahahaha… mas ini tiap pagi pertanyaannya sama, kayak udah lama nggak ketemu aja. Ya gini mas sama aja, yang penting masih bisa makan sama ketawa.” Ujar Parmin.

“Ooh….” sahutnya pendek.

Langit masih gelap, dari kejauhan nampak sorot cahaya dari dua lampu depan sebuah bus kota. Mas Jon menajamkan pandangannya, menembus sorot cahaya lampu, mengarahkannya ke deretan tempat duduk di dalamnya. Bus tersebut berhenti di samping warung tempatnya berada. Dia berdiri melihat bangku yang berada di belakang sopir, namun bangku itu kosong, tidak ada orang yang sedang dia tunggu.

Mas Jon kembali duduk, dia munyulut sebatang rokok, serasa pikiran-pikiran yang datang tiap malam ikut berhembus bersama asap rokoknya. Hembusan yang sama dari sebatang rokok dengan merek yang sama dan dengan beban pikiran yang sama pula.

Matahari mulai terlihat merangkak naik,Mas Jon mengeluarkan tiga lembar uang seribu dan meletakkannya di samping gelas kopi. Dia berlalu tanpa berkata apapun kepada Parmin. Dia berpikir, setiap kali dia melewati jalan tersebut, warna putih gedung-gedung itu semakin kusam setiap harinya. Telintas di kepalanya satu pertanyaan yang sama tiap malam, kapan orang yang dia tunggu akan tiba, orang yang akan mengelap kotoran dari mereka yang jorok dan sok ingin tampil serta berkuasa, sekaligus juga akan menyingkirkan biangnya.

“Ah aku tunggu sambil jalan saja, yang penting orang masih bisa ketawa”. Gumamnya.

Langit semakin terang dan Mas Jon kembali berjalan.

Di atas Kereta Progo (Jogja-Jakarta), 15 Oktober 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s