Menunggu

Kakinya melangkah pelan, jalanan masih sangat lengang, dia berhenti pada sebuah rumah yang terlihat paling berbeda di antara rumah sekitarnya. Rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas di antara deretan rumah-rumah mewah. Kirana sedikit ragu, dia berdiri di luar pagar memandang rumah tersebut.
Angin berdesis diantara rumput dan dandelion di halaman rumah yang sudah tidak terurus itu.

Dia merogoh sesuatu dari dalam tas kulit berwarna coklat, sebuah kunci, duplikat, kunci yang diberikan kepadanya tiga tahun silam. Sejenak dia ragu saat memegang daun pintu rumah itu, tapi serasa ada dorongan kuat yang timbul dari dalam dirinya sehingga pintu itu berderak terbuka.

Isi rumah itu masih sama saat dia pertama kali datang. Lemari buku dan tumpukan kertas mendominasi seisi ruang utama, bedanya hanya debu dan kertas yang berceceran di lantai, seolah penghuninya buru-buru pergi meninggalkannya. Di pojok ruangan terdapat sebuah meja dengan mesin ketik tua di atasnya. Dia mengusap mesin ketik itu, samar-samar terdengar olehnya suara mesin ketik yang bersahutan dengan suara nyamuk, suara dari masa lalu yang mengingatkannya pada sang pemilik rumah, kepada dia yang entah kemana.

Kirana membuka satu-satunya jendela di ruangan itu, dia mengambil kursi tua yang ada di depan meja tempat mesin ketik itu berada. Pandangannya menarawang keluar, perlahan gambar yang terpampang dari jendela bergerak, seperti pita film yang memutar salah satu episode dalam hidupnya.

Disana terduduk dua orang yang saling diam. Mengelesot di antara embun yang menggantung pada cahaya lampu sisa-sisa guyuran hujan.

“Na, apa rencanamu besok?” Tanya si lelaki.

“Haah? Besok? Enggak tau mas, liat besok aja”. Jawab si perempuan.

“Apa kamu merasa bosan dengan rutinitas yang berjalan begitu saja, hingga kamu tak sadar telah semakin tua. Tidakkah ada sesuatu yang menarik untuk dilakukan?”

“Menarik mas? Entahlah”

“Iya, apa yang bisa menjadikan menarik hidup di negeri ini selain mendengar orang-orang yang sok tahu atau melihat yang miskin tetap miskin dan yang kaya terus jadi kaya?”

“Ah mas, di negeri ini jangan bicara soal kemiskinan apalagi kekayaan, tapi tentang kerja keras”, jawab si perempuan.

Si laki-laki terdiam, dia menyeruput kopi pahit sambil membakar rokok kreteknya.

“Ya, mungkin dengan menikmati kerja keras kita dapat merasakan hal yg berbeda setiap harinya. Mungkin kerja keras menjadi satu tingkat spritualitas yang dapat  dijalani”. Kata si lelaki

Keduanya terdiam, pandangan mereka tertuju pada genangan hujan yang memantulkan cahaya keemasan dari lampu kota.

“Na, besok aku mau pergi sebulan. Ada urusan di kota yang mesti aku selesaikan”.

“Sebulan mas Jon pergi? Lama sekali?”
Tanya si perempuan agak terkejut

“Iya, kamu pegang saja kunci rumah kalau sewaktu waktu kamu pengen tidur atau kerja di sana. Aku cuma bawa kantong kresek ini, tulisan yang belum selesai sama beberapa potong baju. Pada waktunya nanti kita bertemu lagi di rumah”.

Kini tiga tahun berlalu, mas Jon tidak juga kembali. Ada yang bilang kamu disana karena masalah perjodohan.
Aku hanya berpikir “ber-tapa-lah” kamu disana. Hingga saatnya tiba kamu pasti pulang, ditempat yang kamu anggap rumah.

Hujan turun perlahan, nampak bias-bias pelangi ikut mewarnainya. Kirana terpejam, bau air dan tanah yg sama dengan bau hujan saat terakhir mereka bersama.

“Semua hanya tinggal menunggu, hingga kita bisa menikmati berjalannya waktu kita masing-masing….”

Hari semakin terang, jalan komplek mulai ramai. Kirana melipat secarik kertas kemudian memasukkan ke dalam kantung jaketnya. Sepotong pesan yang belum sempat dia sampaikan tiga tahun lalu.

Jakarta, 15 Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s