Pesan

image

Foto: Artharini Kisworo

Waktu sudah menunjukkan lewat sembilan malam, tapi lantai sepuluh sebuah gedung perkantoran megah di Jalan Gatot Subroto masih terlihat terang benderang. Dari dalam gedung tersebut seorang laki-laki dengan tampang kusut, mata cekung, dan rambut ikal berantakan berdiri di balik jendela.

Mas Jon yang kini sudah menjadi bagian dari ibu kota, sedang memandang hiruk pikuk jalanan  yang seolah tidak pernah kosong dari kesibukan masyarakatnya. Deru mesin kendaran, klakson yang saling bersahutan secara samar suaranya terdengar sama, semua seolah ingin berteriak “Ayolah aku ingin cepat sampai rumah, aku sudah lelah kerja seharian!”

“Ah… Bagaimana bisa menikmati hidup diantara berjalannya waktu kalau setiap hari harus berlomba dengan waktu seperti ini. Atau memang mereka dan kita semua sudah lupa cara menikmatinya. Sebenarnya siapa yang sibuk dan menyibukkan ?” Pikirnya

“Sudahlah, yang penting tidak lupa saja bagaimana caranya bernafas, biar tetap bisa hidup dalam keadaan sesibuk apapun”.

Mas Jon menatap layar telpon genggamnya. Dia menatap gambar amplop di handphonenya itu. Tadi sore ada sebuah pesan singkat mampir dari seseorang yang tak diduganya. Pesan yang agaknya membuat Mas Jon bahagia tapi miris.

Entah bagaimana dia harus bersikap, bahagia, sedih, senang, atau kehilangan. Dia masih bingung bagaimana dia menyebut rasa yang sedang timbul di dalam dadanya hingga saat ini.

“Aku boleh minta tolong sesuatu nggak? Ada percetakan undangan yang bagus di Jakarta, aku tahu dekat dengan tempatmu sekarang. Desain sudah aku buat, jadi kalau boleh aku minta tolong kamu buat pesenin”. Bunyi pesan tersebut.

Tanpa ba..bi…bu… Mas Jon langsung menghubungi si pengirim pesan.

“Undangan apa? Buat kapan? Kok kamu nggak pernah cerita”. Mas Jon memberondong pertanyaan begitu terhubung dengan nomor yang dituju.

“Heh… pelan-pelan dong… Iya rencananya aku mau kenalin langsung aja nggak pakai cerita-cerita. Aku juga bingung soalnya cepet banget. Mungkin Bapak sama Ibuk juga bingung, ada orang yang belum pernah datang kerumah tiba-tiba bilang mau memperistri anaknya”. Jelas suara perempuan dari telepon Mas Jon.

“Ohh… Yah memang cita-cita dulu begitu kan? Sempat kamu ngomong seperti itu saat terakhir kita ketemu”.

“Ya, mungkin ini jawaban dari Tuhan, aku harus siap”. Jawab si perempuan.

“Jadi kapan acaranya?” Tanya Mas Jon

“Akhir bulan, sebelum ramadhan. Kamu datang ya”.

“Oke, aku pasti usahakan untuk datang. Kalau sudah siap, aku pesankan undangannya, kamu kirim aja alamat dan detailnya”. Kata Mas Jon.

“Beneran? Makasih ya, aku hubungi lagi kalau sudah siap, asal nggak ngerepotin kamu aja”.

“Hehe enggak kok, selamat ya, aku nggak nyangka akan secepat ini”. Jawabnya sambil tersenyum kecut.

“Oke, sampai ketemu di hari bahagia nanti”. Kata Mas Jon mengakhiri pembicaraan tersebut.

Mas Jon menutup menu kotak pesan, dari layar handphonenya kini terpampang gambar gitar Yamaha CX40 dari sebuah toko belanja online. Teringat olehnya bagaimana ia dulu berdiri jauh di depan sebuah panggung di antara rintik sisa hujan demi si perempuan yang sedang bermain gitar menyanyikan beberapa lagu bersama grup musiknya.

“Ah, mungkin ini cocok buatmu. Kamu yang sekarang ini sudah jauh berbeda. Kamu telah menemukan jalanmu, sampai penampilanmu pun sudah jauh berbeda. Dulu kamu suka berpakaian serba praktis, sekarang berkerudung dan selalu mengenakan rok panjang. Tapi satu hal yang aku yakin tidak akan pernah berubah, kesukaanmu terhadap musik yang mungkin sudah mendarah daging.” Gumamnya

“Kini kamu sudah siap untuk menjadi istri dari seorang laki-laki mapan. Kamu sudah siap untuk menjadi ibu dari anak-anakmu, dan aku yakin anak-anakmu kelak menjadi anak sholeh diatas kasih sayang seorang wanita yang telah berubah menemukan jalan hidupnya.”

“Doakan aku yang sedang meraba-raba di tempat yang mungkin akan menjadi tempat  menghabiskan separuh umur ini untuk segera menemukan jalanku juga”. Batin Mas Jon.

Mas Jon berpaling, dia mematikan rokok yang hanya tinggal puntungnya itu.

“Siap atau tidak hidup memang selalu berubah, zaman berubah dan nasib juga berubah, entah dalam hitungan detik, menit, jam, hari, tahun, atau peradaban”. Pikirnya

“Tidak peduli orang menggapmu atau tidak, yang terpenting kamu harus suka dengan apa yang sedang kamu jalani”.

Mas Jon menghela nafas, panjang dan berat.

“Yah memang jalannya begini, memang seharunya dan semestinya”. Gumam Mas Jon.

“Mungkin aku dan kamu sekarang ibarat manusia dengan dunia. Manusia yang mencintai gemerlap kemewahan dunia, hanya bisa mencintai tapi tidak mungkin bisa mengawini dan menjadi pengantinnya”. Batin Mas Jon.

Diambil tas dan jaket parka di kursi tempat menghabiskan separuh waktu dalam hampir setiap harinya. Mas Jon bersiap untuk bergabung dalam ruwetnya jalanan ibu kota, antrian panjang buruh pengadu nasib yang tiap pagi dan sore menjelma menjadi deretan kesibukan tanpa tahu ujung dan pangkalnya.

Jakarta, 28 Mei 2014. Disebuah tempat yang penuh aroma kopi

image

3 thoughts on “Pesan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s